lelah raga tua tertata masa
antara keriput rentan terbalut
berjalan gontai dari gubuk menuju peraduan
peraduan nasib dan rasa diantara hingar dunia
adzan subuh membelalakan mata sayunya
terbangun karena kewajiban jiwa yang menghentaknya
dengan mencuci muka sekedarnya
dan memakan sarapan pagi termewahnya
yaitu segelas air putih dan sekepal nasi aking
dengan lirih dia ucapkan selamat pagi dunia..
terseok-seok berjalan dengan penopang raga tuanya
menyusuri pagi yang dingin jalanan kota
menatap pilu diantara baja-baja besi yang melintas
dengan mencari sesuap pengharapan besar...
diantara orang-orang yang beruntung nasibnya
lalu aku kapan?batinya selalu berontak..kapan..dan kapan
setiap hari raganya teronggok di sudut sebuah pasar
tenggelam diantara hiruk pikuk ekonomi yang kuasa
diantara orang-orang yang menghamburkan uangnya
lalu aku kapan?..kapan aku bisa seperti mereka
saat kutengadahkan tangan menoleh sedikitpun mereka enggan
berjalan melambai..dengan tas belanjaan dan perhiasan mewahnya
padahal yang kuinginkna hanya koin kuning yang tak bernilai
tapi begitu berharga bagi kelangsungan hidupku
sebatang rokok inilah teman berbagi suka dukaku
yang selalu menemani dan menetramkan batinku
mendampingi mulut asamku dan bibir keriputku
yang telah hambar akan suara dan nada kalbu
dunia bolehkah aku bertanya,...
apakah hingga akhir ujung aku akan diacuhkan
dimana anak-anaku yang konon sudah berharta
dimana orang-orang yang bersuara lantang itu
yang konon akan membela dan merawatku si jompo
dan dimana keadilan jaman untuku
batinya berteriak sekeras gema dan gaung di gunung
cukup airmata menampung lara tuaku
baiklah..kutunggu saja berita baik itu
dengan sahabatku sebatang rokok ini
dan helaan nafas yang entah kapan kan terhenti
yogyakarta,23 juni 2011
inspired picture by deni indriyanto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar