Selasa, 28 Juni 2011

Senyuman Rembulan




Wahai engkau yg memiliki hati serupawan wajahmu,
Dengan jiwa yang gelisah aku hanya mampu memandang dan merasakan perihmu dalam jarak.
Aku hanyalah seutas benang yang tertenun dalam kelam lembaran kisah hidupmu,
Yang dipertautkan dalam perjalanan takdir mencari cahaya,

Bukan…
Bukan iba yang kurasa ketika tersingkap luka di balik senyummu,
Tetapi pana ketika engkau mencengkeram erat keyakinanmu,
Untuk menahanmu agar tegak di atas kedua kaki lemahmu,

Jangan sesali keberadaanmu,
Sungguh…
Karena engkau berawal dan berakhir dalam ketiadaan.

Tuhan memberimu perasaan rapuh agar kau mampu memahami makna kekuatan.
Ingatlah pada terumbu karang, saudariku…
Yang di balik kerapuhannya mampu menahan amukan gelombang dan menjadi tempat berlindung bagi kehidupan sekitarnya.

Jangan pernah kau merasa sia-sia,
Karena cahaya berpendar dari sela-sela jari kakimu,
Setiap kali engkau menapak tajamnya kerikil yang menusuk uratmu.

Aku cemburu padamu,
Bukan karena apa yang kau miliki,
Tetapi karena aku tahu Sang Maha Pencinta kelak akan menyambutmu di gerbang cahaya-Nya,

Sungguhpun pada akhirnya aku memahami bahwa cahaya yang kucari hanyalah ilusi,
Ku tak pernah menyesali,
Karena perjalanan takdir membawaku pada cahaya sejati,
Yang mampu menerangi gulita kalbuku.

Kaulah rembulan itu, saudariku…

notes from my best friend sulistyo listyo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar