Kamis, 30 Juni 2011

Layakkah Aku


macam apakah?..rupa yang bagaimana?
bergumam terngiang di otak tiada tara
macam apakah jiwa ini
ketika hanya bisa diam melihat sebuah penghabisan

makhluk seperti apa raga ini..
ketika sudah tak punya rasa dan hawa bicara
ketika diam melihat keterpurukan
di depan mata hati yang sedang rancu

layakkah raga ini mendapatkan sebuah tawa
layakkah raga ini dihadiahi sebuah tangis
tangis atau sebuah tawa kebahagiaan
yang selalu terekam di dalam kalbu jiwa

hai..tanganku sudah tak mampu menggapai
kakiku tak dapat digerakan untuk melangkah
ketika berjuta tanya selalu menjadi iblis
iblis yang siap mengganggu mimpi indahku

semua menjadi gelap ketika ketakutan itu datang
lorong waktu yang tak muat menampung lara
masih punya hati kah aku..?
masih punya tawa kah diriku..?
dan masih keluarkah air mataku..?

suara kalbu selalu menjawab tidak
namun mulut selalu bergumam mengiyakan
surut sudah langkah tergerai
surut menggelayut dalam sunyi
jengah terarah..diam
ku kan diam tanpa bergumam

Selasa, 28 Juni 2011

Senyuman Rembulan




Wahai engkau yg memiliki hati serupawan wajahmu,
Dengan jiwa yang gelisah aku hanya mampu memandang dan merasakan perihmu dalam jarak.
Aku hanyalah seutas benang yang tertenun dalam kelam lembaran kisah hidupmu,
Yang dipertautkan dalam perjalanan takdir mencari cahaya,

Bukan…
Bukan iba yang kurasa ketika tersingkap luka di balik senyummu,
Tetapi pana ketika engkau mencengkeram erat keyakinanmu,
Untuk menahanmu agar tegak di atas kedua kaki lemahmu,

Jangan sesali keberadaanmu,
Sungguh…
Karena engkau berawal dan berakhir dalam ketiadaan.

Tuhan memberimu perasaan rapuh agar kau mampu memahami makna kekuatan.
Ingatlah pada terumbu karang, saudariku…
Yang di balik kerapuhannya mampu menahan amukan gelombang dan menjadi tempat berlindung bagi kehidupan sekitarnya.

Jangan pernah kau merasa sia-sia,
Karena cahaya berpendar dari sela-sela jari kakimu,
Setiap kali engkau menapak tajamnya kerikil yang menusuk uratmu.

Aku cemburu padamu,
Bukan karena apa yang kau miliki,
Tetapi karena aku tahu Sang Maha Pencinta kelak akan menyambutmu di gerbang cahaya-Nya,

Sungguhpun pada akhirnya aku memahami bahwa cahaya yang kucari hanyalah ilusi,
Ku tak pernah menyesali,
Karena perjalanan takdir membawaku pada cahaya sejati,
Yang mampu menerangi gulita kalbuku.

Kaulah rembulan itu, saudariku…

notes from my best friend sulistyo listyo

Jumat, 24 Juni 2011

Menunggu Senja ( Hurina )


Hurina
Engkau sosok rembulan luka
Darah mewarnai angkasa senja
Menyaput merah, menyulut resah
Membias sepasang bola mata berkaca-kaca

Kau yang kutunggu,
Yang datang sebelum malam
Yang mengintip malu di balik mega
Di sisi mentari
Di muka pasi

Hurina
Aku hanya pungguk berselimut debu
Bahala mendekat arkian mengangkup
Tak ayal sirna, anggal digiring bayu

Kau yang kurindu
Yang gerhana sebelum malam, cinta pakaianmu
Yang Menyapa aku dengan jeritan
Desah keluhan
Kau pun hilang

Hurina
Tak kuasa mengampu airmata
Kenyang mengayap cuka
Berbilang hari mengambin hampa
Rela,
Mengapa tiada

inspiration from "deni indrianto" picture

Rabu, 22 Juni 2011

Sebatang Rokok Di Hari Tuaku


lelah raga tua tertata masa
antara keriput rentan terbalut
berjalan gontai dari gubuk menuju peraduan
peraduan nasib dan rasa diantara hingar dunia

adzan subuh membelalakan mata sayunya
terbangun karena kewajiban jiwa yang menghentaknya
dengan mencuci muka sekedarnya
dan memakan sarapan pagi termewahnya
yaitu segelas air putih dan sekepal nasi aking
dengan lirih dia ucapkan selamat pagi dunia..

terseok-seok berjalan dengan penopang raga tuanya
menyusuri pagi yang dingin jalanan kota
menatap pilu diantara baja-baja besi yang melintas
dengan mencari sesuap pengharapan besar...
diantara orang-orang yang beruntung nasibnya

lalu aku kapan?batinya selalu berontak..kapan..dan kapan
setiap hari raganya teronggok di sudut sebuah pasar
tenggelam diantara hiruk pikuk ekonomi yang kuasa
diantara orang-orang yang menghamburkan uangnya
lalu aku kapan?..kapan aku bisa seperti mereka

saat kutengadahkan tangan menoleh sedikitpun mereka enggan
berjalan melambai..dengan tas belanjaan dan perhiasan mewahnya
padahal yang kuinginkna hanya koin kuning yang tak bernilai
tapi begitu berharga bagi kelangsungan hidupku

sebatang rokok inilah teman berbagi suka dukaku
yang selalu menemani dan menetramkan batinku
mendampingi mulut asamku dan bibir keriputku
yang telah hambar akan suara dan nada kalbu

dunia bolehkah aku bertanya,...
apakah hingga akhir ujung aku akan diacuhkan
dimana anak-anaku yang konon sudah berharta
dimana orang-orang yang bersuara lantang itu
yang konon akan membela dan merawatku si jompo
dan dimana keadilan jaman untuku
batinya berteriak sekeras gema dan gaung di gunung

cukup airmata menampung lara tuaku
baiklah..kutunggu saja berita baik itu
dengan sahabatku sebatang rokok ini
dan helaan nafas yang entah kapan kan terhenti


yogyakarta,23 juni 2011
inspired picture by deni indriyanto

Selasa, 21 Juni 2011

Gumam Penghabisan


Segalanya kemudian menjadi temaram
ketika senja direnggut malam
dan kereta ajal tiba menjemputku
di tiang gantungan...

hari datang dan pergi
menjinjing selaksa teka-teki
kemungkinanpun gerbang tak terkunci
sedangkan ajal dan duka
menunggu di tikungan
menyergap harapan..

selamat tinggal tak sempat terucap kepadamu,nak..
saat kereta itu tiba..
mayatku diturunkan dari tiang gantungan
dicatat di satu dua kalimat oleh koran-koran
"hari ini seorang TKW indonesia dihukum gantung"
lalu hilang di lubuk malam
orang-orang tak menyimpan arsipnya

di bekas roda kereta maut yang tiba
berlalu benar kemiskinan memerosotkan martabat
keadilan hanya kata-kata manis bagi orang tak berdaya
yang tidak masuk dalam hitungan elite politik

segalanya kemudian menjadi temaram
ketika sang senja direnggut malam
dan kereta ajal tiba menjemput di tiang gantungan
aku sekarang bergumam sendiri..
menggumamkan dosa penghabisan
mengumumkan kembara kami para tkw..
hanya satu yang teraba
martabat sudah terlalu jauh..
karena sudah diperosotkan kemiskinan

Jumat, 17 Juni 2011

Kematian


Biarkan aku terbaring dalam lelapku,
kerana jiwa ini telah dirasuki cinta,
dan biarkan daku istirahat,
kerana batin ini memiliki segala kekayaan malam dan siang.

Nyalakan lilin-lilin dan bakarlah dupa nan mewangi di sekeliling ranjang ini,
dan taburi tubuh ini dengan wangian melati serta mawar.
Minyakilah rambut ini dengan puspa dupa dan olesi kaki-kaki ini dengan wangian,
dan bacalah isyarat kematian yang telah tertulis jelas di dahi ini.

Biarku istirahat di ranjang ini,
kerana kedua bola mata ini telah teramat lelahnya;
Biar sajak-sajak bersalut perak bergetaran dan menyejukkan jiwaku;
Terbangkan dawai-dawai harpa dan singkapkan tabir lara hatiku.

Nyanyikanlah masa-masa lalu seperti engkau memandang fajar harapan dalam mataku,
kerana makna ghaibnya begitu lembut bagai ranjang kapas tempat hatiku berbaring.
Hapuslah air matamu, saudaraku,
dan tegakkanlah kepalamu seperti bunga-bunga menyemai jari-jemarinya menyambut mahkota fajar pagi.

Lihatlah Kematian berdiri bagai kolom-kolom cahaya antara ranjangku dengan jarak infiniti;
Tahanlah nafasmu dan dengarkan kibaran kepak sayap-sayapnya.
Dekatilah aku, dan ucapkanlah selamat tinggal buatku.

Ciumlah mataku dengan seulas senyummu.
Biarkan anak-anak merentang tangan-tangan mungilnya buatku dengan kelembutan jemari merah jambu mereka;
Biarkanlah Masa meletakkan tangan lembutnya di dahiku dan memberkatiku;
Biarkanlah perawan-perawan mendekati dan melihat bayangan Tuhan dalam mataku,
dan mendengar Gema Iradat-Nya berlarian dengan nafasku.

~ Khalil Gibran~

Kamis, 16 Juni 2011

CINTA yang AGUNG


Adalah ketika kamu menitikkan air mata
dan MASIH peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH
menunggunya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku
turut berbahagia untukmu’

Apabila cinta tidak berhasil…BEBASKAN dirimu…
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya
dan terbang ke alam bebas LAGI ..
Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan
kehilangannya..
tapi..ketika cinta itu mati..kamu TIDAK perlu mati
bersamanya…

Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu
menang..MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika
mereka jatuh

- kahlil gibran -