Jumat, 29 Juli 2011

Adilkah Buatku


malam ini memang waktunya aku mengungkapkan
Rasa yang sebelumnya tak pernah terlintas
Tak pernah terpikirkan di benak kalian
Aku sangat lelah...aku tersungkur
Aku selalu harus memikirkan kalian
tapi tak sedikitpun aku dipikirkan..
taukah kalian aku juga punya hati dan perasaan..

Menjalani helai demi helai
Mengurai lembar demi lembar
Itu menyakitkan dan sangat membuat siksa
Apa yang aku jalani aku ungkap
Aku selalu menjaga tanpa terjaga
Sakit rasanya...

Jikalau raga ini kan terajam
Dan terhakimi oleh kesalahanya
aku rela jika itu bisa membuat angin surga
Mencintai seseorangpun tak daya
Tak terbalas dengan rasa...

Tuhan...aku tau ini cobaan
Aku tau ini ujian...anggap saja ini akhir..
Aku titip kebahagiaan anaku..
Aku titip kebahagiaan ibuku dan adiku
Aku betul2 lelah....

Buat kamu orang yang aku cintai
Rasa ini kan selalu ada..kan tersimpan
meski kau tak membalasnya..
Aku tau mereka terbaik dan lebih baik
Mungkin Bahagiamu bersamanya..
Bahagiamu adalah bahagiaku

Untuk sahabat dan orang yang bilang saudara
Aku memang tak layak dapatkan arti
Maafkan aku..ikhlaskan aku
ijinkan kulepaskan topeng ini sejenak saja
Topeng ketegaran dan kekuatan
Penuh senyum dan aura bijaksana
Ya Rabb..hamba lelah
Aku ingin sudah...

Kamis, 21 Juli 2011

Ketika Tuhan Menciptakan Wanita


Ketika Tuhan menciptakan wanita, malaikat datang dan bertanya,
"Mengapa begitu lama menciptakan wanita, Tuhan?"
Tuhan menjawab,
"Sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk wanita?
" Lihatlah dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan,
punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua itu hanya dengan dua tangan".

Malaikat menjawab dan takjub,
"Hanya dengan dua tangan? tidak mungkin!
Tuhan menjawab,
"Tidakkah kau tahu, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari".

Malaikat mendekat dan mengamati wanita tersebut dan bertanya,
"Tuhan, kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh seolah-olah terlalu banyak beban baginya?"
Tuhan menjawab,
"Itu tidak seperti yang kau bayangkan, itu adalah air mata."
"Untuk apa?", tanya malaikat

Tuhan melanjutkan,
"Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan,
kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan,
serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona laki-laki,
ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki wanita.
dia dapat mengatasi beban lebih dari laki-laki,
dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri,
dia mampu tersenyum saat hatinya menjerit,
mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu,
bahkan tertawa saat ketakutan. dia berkorban demi orang yang dicintainya,
dia mampu berdiri melawan ketidakadilan,
dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang,
dia girang dan bersorak saat kawannya tertawa bahagia,
dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran.
dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian,
tapi dia mampu mengatasinya.
dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.

Kamis, 30 Juni 2011

Layakkah Aku


macam apakah?..rupa yang bagaimana?
bergumam terngiang di otak tiada tara
macam apakah jiwa ini
ketika hanya bisa diam melihat sebuah penghabisan

makhluk seperti apa raga ini..
ketika sudah tak punya rasa dan hawa bicara
ketika diam melihat keterpurukan
di depan mata hati yang sedang rancu

layakkah raga ini mendapatkan sebuah tawa
layakkah raga ini dihadiahi sebuah tangis
tangis atau sebuah tawa kebahagiaan
yang selalu terekam di dalam kalbu jiwa

hai..tanganku sudah tak mampu menggapai
kakiku tak dapat digerakan untuk melangkah
ketika berjuta tanya selalu menjadi iblis
iblis yang siap mengganggu mimpi indahku

semua menjadi gelap ketika ketakutan itu datang
lorong waktu yang tak muat menampung lara
masih punya hati kah aku..?
masih punya tawa kah diriku..?
dan masih keluarkah air mataku..?

suara kalbu selalu menjawab tidak
namun mulut selalu bergumam mengiyakan
surut sudah langkah tergerai
surut menggelayut dalam sunyi
jengah terarah..diam
ku kan diam tanpa bergumam

Selasa, 28 Juni 2011

Senyuman Rembulan




Wahai engkau yg memiliki hati serupawan wajahmu,
Dengan jiwa yang gelisah aku hanya mampu memandang dan merasakan perihmu dalam jarak.
Aku hanyalah seutas benang yang tertenun dalam kelam lembaran kisah hidupmu,
Yang dipertautkan dalam perjalanan takdir mencari cahaya,

Bukan…
Bukan iba yang kurasa ketika tersingkap luka di balik senyummu,
Tetapi pana ketika engkau mencengkeram erat keyakinanmu,
Untuk menahanmu agar tegak di atas kedua kaki lemahmu,

Jangan sesali keberadaanmu,
Sungguh…
Karena engkau berawal dan berakhir dalam ketiadaan.

Tuhan memberimu perasaan rapuh agar kau mampu memahami makna kekuatan.
Ingatlah pada terumbu karang, saudariku…
Yang di balik kerapuhannya mampu menahan amukan gelombang dan menjadi tempat berlindung bagi kehidupan sekitarnya.

Jangan pernah kau merasa sia-sia,
Karena cahaya berpendar dari sela-sela jari kakimu,
Setiap kali engkau menapak tajamnya kerikil yang menusuk uratmu.

Aku cemburu padamu,
Bukan karena apa yang kau miliki,
Tetapi karena aku tahu Sang Maha Pencinta kelak akan menyambutmu di gerbang cahaya-Nya,

Sungguhpun pada akhirnya aku memahami bahwa cahaya yang kucari hanyalah ilusi,
Ku tak pernah menyesali,
Karena perjalanan takdir membawaku pada cahaya sejati,
Yang mampu menerangi gulita kalbuku.

Kaulah rembulan itu, saudariku…

notes from my best friend sulistyo listyo

Jumat, 24 Juni 2011

Menunggu Senja ( Hurina )


Hurina
Engkau sosok rembulan luka
Darah mewarnai angkasa senja
Menyaput merah, menyulut resah
Membias sepasang bola mata berkaca-kaca

Kau yang kutunggu,
Yang datang sebelum malam
Yang mengintip malu di balik mega
Di sisi mentari
Di muka pasi

Hurina
Aku hanya pungguk berselimut debu
Bahala mendekat arkian mengangkup
Tak ayal sirna, anggal digiring bayu

Kau yang kurindu
Yang gerhana sebelum malam, cinta pakaianmu
Yang Menyapa aku dengan jeritan
Desah keluhan
Kau pun hilang

Hurina
Tak kuasa mengampu airmata
Kenyang mengayap cuka
Berbilang hari mengambin hampa
Rela,
Mengapa tiada

inspiration from "deni indrianto" picture

Rabu, 22 Juni 2011

Sebatang Rokok Di Hari Tuaku


lelah raga tua tertata masa
antara keriput rentan terbalut
berjalan gontai dari gubuk menuju peraduan
peraduan nasib dan rasa diantara hingar dunia

adzan subuh membelalakan mata sayunya
terbangun karena kewajiban jiwa yang menghentaknya
dengan mencuci muka sekedarnya
dan memakan sarapan pagi termewahnya
yaitu segelas air putih dan sekepal nasi aking
dengan lirih dia ucapkan selamat pagi dunia..

terseok-seok berjalan dengan penopang raga tuanya
menyusuri pagi yang dingin jalanan kota
menatap pilu diantara baja-baja besi yang melintas
dengan mencari sesuap pengharapan besar...
diantara orang-orang yang beruntung nasibnya

lalu aku kapan?batinya selalu berontak..kapan..dan kapan
setiap hari raganya teronggok di sudut sebuah pasar
tenggelam diantara hiruk pikuk ekonomi yang kuasa
diantara orang-orang yang menghamburkan uangnya
lalu aku kapan?..kapan aku bisa seperti mereka

saat kutengadahkan tangan menoleh sedikitpun mereka enggan
berjalan melambai..dengan tas belanjaan dan perhiasan mewahnya
padahal yang kuinginkna hanya koin kuning yang tak bernilai
tapi begitu berharga bagi kelangsungan hidupku

sebatang rokok inilah teman berbagi suka dukaku
yang selalu menemani dan menetramkan batinku
mendampingi mulut asamku dan bibir keriputku
yang telah hambar akan suara dan nada kalbu

dunia bolehkah aku bertanya,...
apakah hingga akhir ujung aku akan diacuhkan
dimana anak-anaku yang konon sudah berharta
dimana orang-orang yang bersuara lantang itu
yang konon akan membela dan merawatku si jompo
dan dimana keadilan jaman untuku
batinya berteriak sekeras gema dan gaung di gunung

cukup airmata menampung lara tuaku
baiklah..kutunggu saja berita baik itu
dengan sahabatku sebatang rokok ini
dan helaan nafas yang entah kapan kan terhenti


yogyakarta,23 juni 2011
inspired picture by deni indriyanto

Selasa, 21 Juni 2011

Gumam Penghabisan


Segalanya kemudian menjadi temaram
ketika senja direnggut malam
dan kereta ajal tiba menjemputku
di tiang gantungan...

hari datang dan pergi
menjinjing selaksa teka-teki
kemungkinanpun gerbang tak terkunci
sedangkan ajal dan duka
menunggu di tikungan
menyergap harapan..

selamat tinggal tak sempat terucap kepadamu,nak..
saat kereta itu tiba..
mayatku diturunkan dari tiang gantungan
dicatat di satu dua kalimat oleh koran-koran
"hari ini seorang TKW indonesia dihukum gantung"
lalu hilang di lubuk malam
orang-orang tak menyimpan arsipnya

di bekas roda kereta maut yang tiba
berlalu benar kemiskinan memerosotkan martabat
keadilan hanya kata-kata manis bagi orang tak berdaya
yang tidak masuk dalam hitungan elite politik

segalanya kemudian menjadi temaram
ketika sang senja direnggut malam
dan kereta ajal tiba menjemput di tiang gantungan
aku sekarang bergumam sendiri..
menggumamkan dosa penghabisan
mengumumkan kembara kami para tkw..
hanya satu yang teraba
martabat sudah terlalu jauh..
karena sudah diperosotkan kemiskinan